Dupa Tradisional Tibet



Dupa Tibet
sebagian besar mengacu pada dupa model tertentu yang ditemukan di Tibet, Bhutan dan Nepal. Dupa merupakan budaya Tradisional Tibet. Dupa telah digunakan oleh orang Tibet sebagai tanda penghargaan tertinggi untuk membayar upeti kepada kaisar China. Dupa-dupa ini mengandung 30 atau lebih bahan-bahan herbal. Dupa Tipet tidak menggunakan batang [kayu] di dalamnya semata-mata untuk menjaga kemurniannya.

Dupa Tibet memiliki sejarah mengagumkan yang dapat ditelusuri kembali pada masa Bon- agama tradisional di area Himalaya dan tradisi Hindu. Anda dapat menemukan beberapa kisah tertua penggunaannya dalam naskah-naskah Hindu kuno yang berumur lebih dari 3000 tahun silam. Selama masa itu orang-orang Tibet, terutama para pendeta Bon sudah mulai menggunakan dupa untuk persembahan pada dewa-dewa nya. Ketika Buddhisme pada masa awal diperkenalkan selama periode kekaisaran Tibet, beberapa praktek Bon termasuk persembahan dupa sudah berasimilasi ke dalam tradisi mereka. Naskah-naskah tersebut juga mengungkapkan bahwa orang Tibet telah menguasai pembuatan dupa lokal dengan menggunakan resep Hindu ditambah dengan teknik pembuatan setempat bahkan sebelum datangnya Buddhisme. Pembuatan dupa tradisional hampir lenyap pada saat kaum Muslim menyerang India. Untungnya, para Bhiksu Buddha di Vihara-Vihara Tibet bisa berhasil menyembunyikan kitab-kitab tak ternilai yang berisi resep untuk membuat dupa. Pada tahun 1959, ketika Cina mencaplok Tibet, ribuan orang Tibet yang dipaksa meninggalkan Tibet datang ke India membawa kembali kitab yang berisi resep membuat dupa tersebut. Inilah alasannya, Anda bakal menemukan sebagian besar pembuat produk-produk ini adalah para pengungsi Tibet di India.

 

 

Salah satu penggunaan dupa adalah untuk berbagai ritual sederhana. Dalam Budaya Tibet, ritual sederhana ini memiliki makna spiritual yang sangat penting. Hal ini dinilai sebagai tindakan persembahan yang tanpa mementingkan ego dan kemurahan hati tanpa pamrih. Harum dupa membangkitkan dan merilekskan indera kita serta membawa kembali energi positif bagi batin. Dupa Tibet mengajarkan kita pada sebuah pelajaran berharga tentang kehidupan manusia. Sebagaimana batang dupa dinyalakan, dupa tersebut terbakar terang memberikan aroma yang melayang di ruang terbuka seperti beranjaknya kehidupan ini. Sama halnya, batang dupa yang telah terbakar dan makin pendek secara bertahap hingga akhirnya memudar menjadi abu melambangkan akhir kehidupan. Dengan demikian, hal ini mengajarkan bahwa hidup tidak ada yang permanen.Terlepas dari nilai ajaran-ajaran ini, dupa juga termasuk obat khusus dan zat terapeutik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, berbagai bunga dan mineral. Dalam bidang medis Tibet, dupa diakui sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit. Informasi ini tersedia dalam buku-buku kedokteran Tibet.

 


Sama halnya dengan masa lalu ketika dupa ini tetap sebagai sebuah bagian fundamental dari kehidupan dan budaya Tibet, dalam konteks kekinian dupa Tibet juga telah memperoleh pengakuan dunia. Dupa Tibet telah menjangkau ribuan keluarga dimanapun di bumi ini. Tentunya, salah satu alasan popularitas dupa ini adalah keinginan individu tersebut untuk membantunya menjadi lebih rileks dan mendapatkan sentuhan ilahi dalam batinnya.

 

Kendati saat ini jaman modern serba canggih dan mekanik, dupa tradisonal Tibet tetap mempertahankan orisinalitas dan kesegaran yang sama dengan masa-masa sebelumnya. Dupa ini sekarang tidak hanya terbatas di Tibet saja, namun telah tersebar luas menghubungkan orang dari berbagai budaya. Dupa yang kita temukan saat ini mempunyai lebih dari 100 kombinasi bahan; termasuk mineral, herbal, bunga dan tanaman aromatik dengan pasar kelas dunia.

 
Ditulis oleh : Roger F Marlow, alih bahasa ke bahasa Indonesia : Upa. Siddhiraja
Sumber artikel: http://EzineArticles.com/6762512