Japa Mala


 

Mala adalah sekumpulan manik-manik yang digunakan untuk menghitung mantra-mantra yang  mengungkapkan  aspek Buddha – dalam tataran suara. Jumlah mantra akan dihitung untuk memastikan hasil-hasil meditasi yang akan terjadi.

Dalam Buddhisme Tibet, secara tradisi jumlah biji mala yang digunakan 108 biji. Melakukan satu putaran 108 biji mala dihitung sebagai 100 kali pengulangan  mantra; selebihnya digunakan untuk mengubah [membetulkan] kesalahan-kesalahan [selama  pelafalan  1 putaran mala]. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat manik-manik bisa saja berbeda tergantung pada tujuan  mantra yang digunakan. Manik-manik bisa dibuat dari biji Bodhi, biji Rudraksha, biji teratai ( dalam Tibet disebut bulan dan bintang), cendana, abelia, emas, perak, tembaga, besi, Kristal, koral, gading, amber, kaca warna-warni, pirus, Kerang besar, mutiara dan masih banyak lagi, bahkan dari tulang bhiksu suci atau Lama yang dihormati.

Mala
 

Mala tulang suci dibuat dari tulang Mahasiddha atau Lama melalui pembuatan tangan oleh para lama yang berkemampuan tinggi, oleh sebab itu, mala tersebut sangat berharga. Lama yang membuat mala tulang suci, akan menjapa mantra-mantra selama mengasah tulang-tulang tersebut menjadi biji dan menghaluskannya. Keseluruhan proses pembuatan mala tulang suci mungkin memakan waktu satu dekade, maka ada pepatah dalam Buddhisme, “mala tulang suci dapat memberikan kedamaian bagi yang meninggal dan keselamatan bagi yang masih hidup”.

Apa yang diwakili dari mala tulang suci, dalam bahasa biasa[duniawi], adalah kehidupan selalu berubah dan kematian bisa saja mengetuk pintu-pintumu di setiap waktu, oleh sebab itu, seseorang harus rajin dalam praktik[Dharma]nya. Sedangkan dalam pengertian Dharmata [realitas alami], hal tersebut adalah kekosongan.


 

Beberapa biji, diantaranya yang terbuat dari biji teratai, dapat digunakan untuk segala tujuan dan segala jenis mantra. Meski demikian, dalam Buddhisme Tibet, biji yang dipakai untuk menjapa dibedakan menjadi 4 tujuan:

  1. Mantra-mantra yang  menentramkan, sebaiknya menggunakan warna mala putih seperti Kristal. Hal ini dapat dipakai untuk menjernihkan pikiran dan membersihkan halangan-halangan dalam kehidupan, seperti penyakit, karma buruk dan faktor-faktor mental penganggu.
  2. Mantra-mantra yang meningkatkan, sebaiknya menggunakan mala biji Bodhi, emas atau batu amber. Mantra-mantra yang terhitung dalam jenis mantra ini, semisalnya, mantra Jambhala Kuning, yang dapat  “meningkatkan daya hidup, pengetahuan dan jasa kebajikan”.
  3. Mantra-mantra untuk menarik, yaitu  menjinakkan, namun motivasi melakukannya harus dengan niat murni untuk menolong/demi kebaikan makhluk lain dan bukan untuk keuntungan diri sendiri. Menjapa mantra Amitayus dan Kurukulle, mala terbuat dari koral harus digunakan.
  4. Mantra-mantra untuk menjinakkan dengan kekuatan, harus menggunakan mala yang terbuat dari tulang Mahasiddha. Menjapa mantra-mantra jenis ini untuk menjinakkan yang lain, namun disertai motivasi tanpa ego demi menolong makhluk lain. Untuk menjinakkan dengan kekuatan memiliki arti menaklukan energi-energi yang berbahaya, seperti “roh-roh penganggu”; hanya seseorang yang bagaikan Dakini dengan motivasi belas kasih agung demi semua makhluk(dalam hal ini;  semua makhluk termasuk juga didalamnya makhluk-makhluk yang akan dijinakkan tersebut), yang dapat melakukan ini.

 

Biji mala yang dibuat dari biji teratai dapat digunakan untuk berbagai tujuan dan menjapa seluruh jenis mantra.