Hakikat Namaskara


Namaskara Mudra

Namaskara Mudra

Terdapat 3 obyek dalam bernamaskara, yaitu : Buddha, Dharma dan Sangha.

Adapun cara memvisualisasikan Buddha, Dharma dan Sangha :

  1. Di angkasa di atas depan kepala kita terdapat sebuah singgasana yang ditopang oleh 4 singa putih.
  2. Di atas singgasana tersebut, bertahtalah Sang Buddha.
  3. Di sekeliling Sang Buddha terdapat para Sangha.
  4. Di belakang Sang Buddha terdapat Buku teks Dharma.
  5. Di angkasa di sekeliling mereka semua, terdapat para Bodhisattva dan para Buddha di sepuluh penjuru.

Terkadang apabila kita tidak mampu memvisualisasikannya, maka kita bisa bernamaskara di hadapan patung/thanka/gambar Buddha karena ini juga merupakan figur dari sang Buddha. Kita banyak melihat berbagai rupang Buddha yang terbuat dari kayu, emas, batu, dll yang pernah kita jumpai di berbagai tempat. Akan tetapi janganlah pernah berpikir untuk lebih menghormati rupang itu dikarenakan rupang terbuat dari emas dibandingkan dengan rupang yang terbuat dari kayu yang nilainya tidak sama dengan emas. Janganlah berpikir seperti itu, akan tetapi perlakukanlah semuanya dengan sama rata dan tidak membeda-bedakan karena semua patung terkandung kualitas-kualitas Sang Buddha. Semua bergantung pada devosi dan keyakinan kita terhadap Sang Buddha. Jadi kita juga bisa memberikan persembahan dan bernamaskara dihadapan patung/thanka/gambar sang Buddha.

Ada sebuah kisah berkenaan dengan keyakinan, seorang wanita di Pakistan yang memiliki devosi dan keyakinan yang sangat besar terhadap Sang Buddha. Wanita tesebut mempunyai seorang anak yang pekerjaannya adalah berdagang. Anak tersebut sering melakukan perjalanan bolak balik dari Pakistan ke India. Wanita itu berkata kepada anaknya : “Oleh karena Sang Buddha  telah wafat, tolong carikan  gigi Sang Buddha dan berikanlah kepada Ibu”. Akan tetapi anaknya selalu lupa untuk membawa gigi Sang Buddha. Kemudian untuk terakhir kalinya, wanita itu meminta kepada anaknya agar membawa gigi Sang Buddha, apabila ia tidak membawa pulang gigi tersebut, maka ibunya akan bunuh diri. Akan tetapi dalam perjalanan pulang, anak tersebut kembali melupakan pesan ibunya. Sesampai di rumah, sang anak baru ingat akan pesan ibunya. Dan saat itu ia mencari dan melihat disekelilingnya untuk mencari pengganti gigi Sang Buddha. Kemudian ia melihat ada seekor anjing yang sudah meninggal di jalan. Dan dia pun berpikir untuk mengambil gigi anjing tersebut sebagai pengganti gigi Sang Buddha dan lalu membungkusnya dengan kain 5 warna. Sesampainya di rumah, ia langsung memberikan bungkusan tersebut kepada Ibunya dan berkata, “ Inilah gigi Sang Buddha”. Ibunya menerima dengan suka cita dan segera meletakkan gigi Sang Buddha tersebut di altar. Setiap hari ia melakukan namaskara dan memberikan persembahan untuk gigi tersebut. 3 tahun telah berlalu, karena keyakinan dan kepercayaan wanita tersebut  gigi anjing yang ia percayai sebagai gigi Sang Buddha, mengeluarkan cahaya 5 warna dan merefleksikan figur Sang Buddha dalam cahayanya. 3 tahun kemudian wanita tersebut meninggal dan tubuhnya bertransformasi menjadi pelangi.

Dari cerita tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa dengan keyakinan dan kepercayaan itulah inti dari namasakara bukan karena objeknya.

Beragam jenis namaskara dilakukan dari berbagai negara dan aliran-alirannya. Kita dapat menjumpai cara namaskara Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Dalam tradisi Tibetan sendiri juga dijumpai beragam cara bernamaskara : ala Gelug, Nyingma, Kagyu,dll. Akan tetapi makna semua jenis namaskara tersebut adalah sama. Tujuan dari namaskara yaitu untuk  pemurnian /  membersihkan karma negatif  tubuh, ucapan dan pikiran kita. Dalam Buddhism terdapat banyak metode untuk membersihkan halangan / karma buruk, salah satunya adalah dengan namaskara.

Sarva Manggalam