Tata Cara Namaskara


Bagaimana cara bernamaskara yang benar ?

  1. Tangan bersikap anjali ( telapak tangan dikatupkan manjadi satu),
  2. Kedua ibu jari ditekukkan ke dalam dan kita visualisasikan di dalamnya terdapat permata
  3. Visualisasikan disebelah kanan adalah Ayah. Di sebelah kiri adalah Ibu, di depan kita adalah semua musuh/orang yang membenci kita dan di belakang kita adalah  semua makhluk-makhluk. Dan kita bayangkan mereka juga melakukan namaskara bersama kita.
  4. Kemudian visualisasikan Buddha, Dharma dan Sangha,
  5. Lalu melakukan namaskara dengan pelafalan dan caranya sebagai berikut :
    1. Tangan bersikap anjali dan disentuhkan ke dahi sambil mengucapkan (berpikir bahwa) “Kepada semua Buddha di sepuluh penjuru, saya bernamaskara kepada Tubuhmu, mohon murnikanlah halangan-halangan tubuh saya dan mohon berkahi tubuh saya”,
    2. Kemudian sentuhkan sikap tangan anjali tadi ke tenggorokan sambil mengucapkan “Saya bernamaskara kepada Ucapan dari seluruh Buddha yang ada di sepuluh penjuru, mohon berkahi ucapanku”.
    3. Lalu disentuhkan lagi ke ulu hati sambil mengucapkan “Saya bernamaskara kepada Pikiran dari seluruh Buddha yang ada di sepuluh penjuru, mohon berkahi pikiranku.”
    4. Dilanjutkan dengan bersujud dengan memperhatikan 5 titik penting dalam namaskara. Dari sini kita berlutut dengan kedua lutut, kedua telapak tangan dan dahi kita menyentuh tanah dengan membayangkan kita bernamaskara kepada Tubuh, Ucapan, Pikiran, Kualitas dan Aktivitas dari Sang Buddha. Manfaat yang dipetik dengan melkukan hal ini adalah untuk membersihkan 5 racun dalam diri kita. Yang dimaksud dengan 5 racun adalah keinginan, kebencian, kebodohan, keserakahan dan iri hati.
    5. Kita melakukan namaskara bisa banyak ataupun sedikit tetapi untuk visualisasi adalah tetap seperti ini.
    6. Setelah selesai namaskara maka akan dilanjutkan dengan meditasi untuk menvisualisasikan Buddha dari sepuluh penjuru:
      1. Dari dahi seluruh Buddha terdapat bija aksara OM putih yang memancarkan cahaya putih yang memancar masuk ke dahi kita. Dan kita berpikir bahwa semua karma negatif dari tubuh kita dipurifikasi menjadi murni sebagaimana tubuh sang Buddha dan kita memperoleh berkah dari Tubuh sang Buddha.
      2. Dari tenggorokan seluruh Buddha terdapat bija aksara AH merah yang memancarkan cahaya merah yang memancar masuk ke tenggorokan kita. Dan kita berpikir bahwa semua karma negatif dari ucapan kita dipurifikasi menjadi murni seperti Ucapan sang Buddha dan kita memperoleh berkah dari Ucapan sang Buddha.
      3. Dari ulu hati seluruh Buddha terdapat bija aksara HUNG biru yang memancarkan cahaya biru yang memancar masuk ke ulu hati kita. Dan kita berpikir bahwa semua karma negatif dari pikiran kita dipurifikasi menjadi murni seperti Pikiran sang Buddha dan kita memperoleh berkah dari Pikiran sang Buddha.

Lalu semua Buddha dari sepuluh penjuru melebur menjadi satu dengan Buddha yang di tengah. Sangha juga melebur menjadi satu dengan sang Buddha. Teks Dharma juga melebur menjadi satu dengan sang Buddha. Setelah itu tahtanya juga menjadi satu dengan sang Buddha. Jadi hanya tinggal 1 Buddha. Setelah itu sang Buddha juga melebur menjadi bija aksara OM AH HUNG. Kemudian OM AH HUNG melebur kedalam tubuh, ucapan dan  pikiran kita. Semua mahkluk, ayah, ibu dan musuh kita melebur menjadi satu kedalam diri kita. Kemudian semua dunia juga melebur menjadi satu ke dalam diri kita. Lalu tubuh kita juga perlahan-lahan menjadi bija aksara OM AH HUNG. Lalu OM melebur menjadi satu ke AH kemudian AH melebur ke dalam HUNG. Lalu HUNG perlahan-lahan menghilang. Setelah itu kita dapat sejenak memeditasikan Sunyata, sekitar 5 menit kemudian perlahan-lahan kembali membayangkan Buddha, Dharma dan Sangha.

Setelah itu kita melakukan puja aspirasi dan mendedikasikannya.

 

Sarva manggalam