Ajaran Buddha Amitabha
AJARAN BUDDHA AMITABHA
Diajarkan oleh Master Vajra Namgyal Rinpoche
dan diterjemahkan oleh Karma Topden ( Guru dari RumtekSheda )
Guru Silsilah Yang Mulia, yang sangat berharga,
Aku menempatkanmu di atas takhta teratai di atas mahkota kepalaku.
Melalui kebaikanmu yang besar, jagalah aku dalam lindunganmu,
Anugerahkanlah kepadaku pencapaian dari tubuh, ucapan, dan pikiran tercerahkanmu.
Di alam kebahagiaan agung, Engkau memutar roda Dharma,
Selalu memandang semua makhluk hidup dengan penuh kasih sayang.
Telah bertekad dan ber-ikrar untuk melindungi semua makhluk,
Amitabha, yang duduk dalam meditasi yang seimbang, aku bersujud kepadamu.
Vajradhara yang mulia, penguasa dari semua keluarga Buddha, Penguasa dari segalanya, Karmapa.
Sumber dari semua mandala, kemuliaan dari eksistensi dan kedamaian, Vajrayogini,
Penguasa dari semua aktivitas, pelindung Dharma utama, Mahakala dan Mahakali,
Aku, sang praktisi, bersujud dengan pengabdian yang tunggal; sudilah menjaga kutanpa terpisahkan melalui kasih sayangmu.
Dalam bahasa para dewa, naga, dan yaksha,
Dalam bahasa para vampir (makhlukhalus/raksasa), dan manusia,
Dalam semua bahasa dari seluruhmakhluk,
Dalam semua bahasa tersebut, aku mengajarkan Dharma.
Untuk menuntun semua makhluk hidup, yang tak terbatas bagaikan langit, menuju tingkat kemahatauan (Omnisains), Buddha yang Maha Tau.
Kita harus mempraktikkan Dharma yang mendalam dan luas dari Kendaraan Besar (Mahayana). Dengan niat ini, kita harus membangkitkan pikiran pencerahan yang sangat berharga, Bodhicitta.
Urutan pengajaran yang akan dipelajari ini berkaitan dengan praktik alam suci Sukhavati, surga barat dari Buddha Amitabha, dan empat sebab untuk dilahirkan kembali di alam tersebut.
Terutama pada jaman kemerosotan ini, Ketika ajaran ajaran suci sedang meredup, dan banyak makhluk pada umumnya hanya memiliki Kebajikan yang sedikit. Kita sangat beruntung untuk bias melakukan praktek spiritual, mendengarkan ajaran Dharma yang indah, bias menerima empowerment (Abiseka), membaca kitab suci, dan melakukan aktifitas Kebajikan lainnya. Ini adalah sumber Kebajikan yang sangat besar. Ini Adalah moment langka dan penuh keberuntungan, karena kita mengumpulkan karma baik yang pada akhirnya akan membimbing kita menuju pencerahan di masa depan. Terutama di era kemunduran spiritual seperti saat ini, Ketika Kebajikan makhluk makhluk semakin berkurang. Maka berpraktik Dharma di era kemunduran ini Adalah hal yang luarbiasa beruntung. Oleh karena itu kita harus senantiasa memupuk rasa sukacita.
Untuk itu anda harus mempunyai keyakinan terhadap Dharma. Keyakinan ini tidak boleh berupa keyakinan buta, tapi Anda harus menumbuhkan keyakinan dengan memahami point point utama dari ajaran Dharma yang suci.
Keyakinan Adalah akar dari Dharma. Tanpa adanya Keyakinan ,berkah dari ajaran Dharma tersebut tidak bias masuk ke anda sekalian. Dengan menumbuhkan keyakinan di dalam Dharma, anda harus belajar, merenungkan, dan bermeditasi pada Dharma suci ini tanpa adanya kesalahan. Pertama tama Anda harus mendengarkan Dharma secara luas. Setelah mendengarkan , anda harus bermeditasi terus menerus atau mempraktekkannya. Anda harus melakukan ini hingga mencapai hasil.
Selanjutnya anda semua harus mendengarkan Dharma dan membaca kitab suci dengan pikiran yang tidak terganggu dan perhatian yang terpusat.
Alasan mendengarkan dan membaca Dharma Adalah untuk mencapai ke Buddhaaan demi manfaat diri sendri dan semua makhluk yang memiliki kesadaran. Jika anda mendengarkan Dharma dengan motivasi atau niat yang egois, Dharma bias menjadi racun.
Oleh karena itu saat mendengarkan Dharma, motivasi Anda tidak boleh terpusat pada diri anda sendiri, tetapi tidak boleh egois dan berdasarkan Bodhicitta ( pikiran pencerahan). Kembangkan Bodhicitta dengan berpikir ,“ Saya akan membantu semua makhluk mencapai keBudhaan yang sempurna”
Masuk ke topic utama Dharma, ini melibatkan empat penyebab yang menyebabkan kelahiran Kembali di Sukhavati, dan dua sebab yang mencegah kelahiran Kembali ke sana, dipadukan dengan petunjuk meditasi yang berkaitan dengan metode praktik Sukhavati.
Secara umum, semua Buddha memiliki satu hakikat yang sama. Namun untuk menjinakkan berbagai macam makhluk hidup, Para Buddha melakukan banyak aktifitas pencerahan yang unik, yang berbeda dari Buddha Buddha yang lain.
Meskipun aktivitas pencerahan dari Para Buddha tak terhitung jumlahnya, namun hal ini bias dirangkum menjadi tiga, yaitu menyempurnakan aspirasi, mematangkan batin dari para makhluk, dan memurnikan alam-alam. Di antara ketiganya, memurnikan alam adalah aktivitas pencerahan yang sangat Istimewa.
Berdasarkan hal ini, masing-masing Buddha dan Bodhisattva memiliki alam murniNYA. Alam murni yang sangat terkenal anatara lain: Abhirati tanah Suci Buddha Asokbhya, Ghanavyuha Tanah Suci Buddha Vairocana, Ratnavriksha Tanah Suci Buddha Ratnasambhava, Akanistha Tanah Suci Buddha Vajradhara, dan alam murni lainnya yang tak terhitung jumlahnya.
Di antara semua ini, satu alam yang sangat khas atau khusus Adalah Alam Sukhavati Barat dari Buddha Amithaba. Alam ini berada dekat dengan dunia kita. Jambhudvipa.
Alam Sukhavati ini sangat Istimewa dibandingkan dengan alam-alam lainnya, karena, di masa lalu selama bermasa-masa kalpa yang tak terhitung jumlahnya, ketika Buddha Amitabha pertama kali menumbuhkan pikiran pencerahan yang agung, Beliau memanjatkan doa-doa luar biasa demi manfaat semua makhluk. Di antara doa-doa tersebut, yang paling istimewa adalah ikrar Beliau bahwa di masa depan, ketika Beliau mencapai KeBuddhaan, setiap makhluk hidup yang memanggil nama-Nya dan berdoa kepada-Nya, serta tidak melakukan Lima Perbuatan Berat (Garuka Kamma), tidak mengembangkan pandangan salah terhadap Dharma yang suci, dan sebagai tambahannya selalu mengingat empat sebab kelahiran kembali di Sukhavati serta mempraktikkan Dharma, akan dilindungi oleh welas asih Buddha Amitabha dan akan dapat lahir kembali di alam-Nya tanpa kesulitan besar, yang membimbing pada pencerahan yang cepat. Inilah janji dan komitmen yang dibuat oleh Buddha Amitabha.
Salah satu alas an mengapa Alam ini dikenal sebagai Alam Sukhavati (The Blissful Realm, Sukhavati dalam bahasa Sanskerta dan Dewachen dalam bahasa Tibet) adalah bagi mereka yang belum melenyapkan kotoran batin (klesha) atau belum menyadari kekosongan (sunyata) dan sebagainya, mereka dapat terlahir kembali di alam penuh sukacita ini. Begitu terlahir kembali di sana, mereka terbebas dari kotoran batin dan dengan sangat mudah atau tanpa banyak kesulitan dapat mencapai Kebuddhaan. Seperti yang dinyatakan oleh guru kenamaan Karma Kagyu, Khedrup Karma Chakme, dalam teksnya The Mountain Dharma:
“Oh, sungguh menakjubkan! Ha! Putraku, biksu yang tekunTsondru Gyatso,”’Apakah kualitas dari negeri tersebut?”
Di alam itu, keagungan dari delapan puluh satu miliar Buddha menyatu menjadi satu, beserta seluruh keindahan dan kualitas dari alam-alam tersebut.
Jika tidak ada satu pun makhluk dari enam alam yang mencapai Kebuddhaan sempurna dan menceritakan kualitas alam tersebut selama lebih dari satu miliar kalpa, hal ini tidakmungkin bias dijabarkan.
Bagaimana mungkin aku dapat menggambarkannya? Di sebelah barat terbentang dunia sukacita yang tidak tunduk pada kehancuran.
Tak terhitung banyaknya Buddha yang telah dating sebelumnya, dan kini Amitabha bersemayam di sana.
Negeri itu tetap tidak berubah dan abadi, melampaui perhitungan dan imajinasi.
Di sana, delapan alam rendah tidak pernah terdengar, dan penderitaan tidak mungkin ada.
Alam itu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan sukacita.
Itulah mengapa alam itu disebut sebagai negeri sukacita.” Dan seterusnya. (Catatan: lihat pada Manfaat dan deskripsi Surga Sukhavati Barat Amitabha)
Untuk dapat lahir di alam murni lainnya, seseorang harus mencapai tingkat level pertama, menyadari kekosongan, dan melenyapkan kedua jenis tabir kotoran batin, dan sebagainya. Syarat-syarat ini mutlak diperlukan. Dijelaskan secara lugas dalam kitab-kitab Sutra, Tantra, dan Shastra bahwa jika seseorang yang tidak secara langsung menyadari kebenaran dari hakikat realitas, ia tidak dapat terlahir kembali di alam murni Buddha lainnya.
Namun, untuk dapat lahir di Sukhavati, seseorang tidak perlu melihat langsung kebenaran dari hakikat realitas seperti yang disebutkan sebelumnya. Bahkan kita, makhluk hidup biasa, dapat terlahir di alam ini. Jika seseorang memiliki empat sebab untuk lahir kembali di alam ini, tidak diragukan lagi bahwa ia dapat lahir di Sukhavati.
Empat sebab tersebut adalah:
- Sebab pertama adalah mengingat alam murni
- Sebab kedua adalah mengumpulkan Kebajikan
- Sebab ketiga adalah menumbuhkan pikiran pencerahan (bodhicitta)
- Sebab keempat adalah melakukan pelimpahan jasa serta doa
Asal-usul Alam Murni Kebahagiaan Agung Barat ditemukan dalam kitab-kitab suci Buddha, khususnya dalam Kangyur , yang mencakup Sutra Amitabha, Sutra Sukhāvatīvyūha, Sutra Teratai, Bhadrakalpika Sutra, Mahabherīhāraka Sutra, dan lain-lain. Kitab-kitab suci ini menggambarkan Buddha Amitabha, tata letak Alam Murni Kebahagiaan Agung, dan empat sebab untuk membangkitkannya, sebagaimana diajarkan oleh Buddha Shakyamuni. Selain itu, berbagaiteks tantra dari tradisi Vajrayana memuat kisah tentang Buddha Amitabha dan Alam Murni Kebahagiaan Agung.
Praktik Alam Sukhavati (Bdechenzhing Drup) ini memiliki hakikat dari sutra maupun mantra. Praktik ini diajarkan secara langsung oleh Buddha Amitabha kepadaTertön muda Tulku Migyur Dorje dalam sebuah penglihatan suci (pure vision), yang memberikan metode dan petunjuk untuk terlahir di Alam Sukhavati Amitabha.
Praktik ini dituliskan oleh cendekiawan dan mahasiddha Karma Chakme yang merupakan guru dari Migyur Dorje. Ini adalah siklus ajaran dari penglihatan suci.
Empat sebab untuk terlahir kembali di alam kebahagiaan agung dan dua sebab yang mencegah seseorang terlahir kembali di tanah kebahagiaan agung.
Empat sebab untuk kelahiran kembali:
- Mengingat Alam Murni.
- Mengumpulkan kumpulan besar perbuatan kebajikan.
- Menumbuhkan pikiran pencerahan (Bodhicitta) yang agung.
- Melakukan pelimpahan jasa dan doa untuk terlahir di Alam Murni Sukhavati.
Dua sebab yang mencegah kelahiran kembali:
- Melakukan lima perbuatan sangat berat (5 Dosa Berat)
- Mengembangkan pandangan salah terhadap Dharma yang suci.
Teks dalam buku panduan praktik Sadhana Amitabha mencakup doa silsilah (lineage prayer) di bagian awal. Ini dimulai dengan“Namo Amitabha ye” hingga“Semoga saya menjadi tidak terpisahkan dari Berikut adalah terjemahan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
Tak terpisahkan dari Penguasa Cahaya Tanpa Batas”. (Halaman No. 8-10). Doa silsilah ini menetapkan sumber dari praktik tersebut. Doa silsilah menunjukkan silsilah yang tidak terputus dari Buddha Amitabha hingga ke Guru Akar (Root Guru). Doa tersebut memohon agar melalui praktik sadhana ini, semoga saya dan seluruh makhluk hidup dapat mencapai Kebuddhaan primordial( Buddha Masa Lampau).
Sebagai contoh, pada bagian akhir doa silsilah dikatakan:
Melalui berkah dari berdoa dengan cara ini,
Semoga kedua selubung, penyakit, rintangan, dan hambatan dapat diredakan,
Semoga usia panjang, kemuliaan, dan kebijaksanaan transendental (yang di luar pemikiran orang biasa) berkembang pesat,
Semoga saya menjadi tak terpisahkan dari Sang Pelindung Amitabha.
Sekarang, bagilah metode praktik ini menjadi tiga bagian: persiapan, praktik utama, dan penutup.
Pertama, praktik persiapan berupa berlindung dan membangkitkan Bodhichitta :
“Namo. Pujian bagi yang langka dan agung” hingga “Aku akan membangkitkan bodhichitta” (Halaman No. 11). Ini adalah praktik berlindung dan membangkitkan bodhichitta. Bagi kita semua yang mempraktikkan Mahayana, ketika kita melakukan praktik Dharma apa pun, praktik berlindung dan membangkitkan Bodhichitta memiliki arti yang sangat penting. Penyebab yang ketiga untuk terlahir kembali di Sukhavati Adalah berlindung dan membangkitkan bodhichitta .
Batasan antara menjadi seorang praktisi Mahayana atau bukan sangat ditentukan oleh apakah seseorang telah membangkitkan bodhichitta atau belum. Sebagai contoh, berlindung dan membangkitkan bodhichitta itu seperti fondasi sebuah rumah. Jika fondasinya kuat dan stabil, rumah tersebut akan terbangun dengan baik. Ketika mempraktikkan kebajikan, baik secara umum maupun dalam praktik khusus ini, kita harus secara jelas menetapkan motivasi dengan niat yang murni, sambil berpikir, “Semoga saya dan seluruh makhluk hidup, ibu saya di kehidupan ini dan masa lampau, terlahir kembali di tanah suci Sukhavati di sebelah barat.”
Seperti yang dikatakan, “Jika niatnya baik, tingkat dan jalannya juga baik; jika niatnya buruk, tingkat dan jalannya juga buruk.” Oleh karena itu, memupuk niat altruistic (tidak berfokus kepada diri sendiri) adalah hal yang sangat penting. Demikian pula, jika praktik persiapan berlindung dan membangkitkan Bodhichitta dilakukan dengan baik, maka praktik utama dan penutup secara otomatis akan menjadi baik pula.
Sekarang, jika Anda bertanya kepada siapa saya berlindung, jawabannya adalah saya berlindung kepada Tiga Permata—Buddha, Dharma, dan Sangha serta sumber dari berkah yaitu Guru, sumber pencapaianya itu Yidam, dan sumber-sumber aktivitas yaitu Para Dakini dan Para Pelindung Dharma. Tiga Permata adalah pendekatan dalam tradisi Sutra, dan tiga sumber adalah pendekatan dalam tradisi Mantra Rahasia.
Untuk tujuan apa saya berlindung? Agar diri saya dan seluruh makhluk hidup mencapai keadaaan KeBuddhaan. Ini adalah penyebab ketiga untuk terlahir di Alam Kebahagiaan, yaitu membangkitkan pikiran pencerahan (bodhicitta).
Setelah itu, dimulai dari “Diriku tampak dengan jelas sebagai Chenrezig”hingga “vajra raksha rakish droom” (Halaman No. 11-13) ini adalah pemberian Torma untuk meredakan rintangan, ketidakberuntungan, dan sejenisnya. Ini bertujuan untuk mengusir kekuatan negatif yang tidak sesuai Dharma, seperti kekuatan pengganggu dan roh-roh, serta untuk meminta bantuan dan dukungan dari Dewa-Dewa setempat dan Dewabumi yang berada di pihak yang baik untuk praktik sadhana. Setelahmempersembahkan torma, guna mencegah dan memusnahkan rintangan luar, kekuatan pengganggu, dan sebagainya, lakukan meditasi pada lingkaran perlindungan lima kebijaksanaan (prajna) dan kubah vajra api yang memancar dari tubuh Istadewata murka Hayagriva, mengelilingi diri kita dan tempat ini.
Sekarang, pada bagian utama ritual, dari“Memancar dari ranah kemurnian primordial” hingga “Semoga mereka menjadi tak terbatas” (Halaman No. 13-14), semua fenomena diberi segel, segel dari kekosongan. Hal ini dilakukan untuk memahami bahwa semua fenomena, baik maupun buruk, memiliki hakikat kekosongan, dan inilah yang dimeditasikan. Alasan bermeditasi adalah untuk memusnahkan kemelekatan kita pada Dharma.
Berikutnya, penyebab pertama terlahir kembali di Tanah Suci Kebahagiaan Agung adalah dengan mengingat tanah suci kebahagiaan agung tersebut.
Dalam sadhana, dari“Duduk di atas bunga teratai yang lahir dari air” hingga “Aku memohon kepadamu untuk mencerahkan semua pengaruh yang menyesatkan dan yang menghalangi” (Halaman No. 14-16), tanah suci diingat kembali dan Istadewata Kebijaksanaan diundang. Seseorang harus memvisualisasikan tanah suci dan bermeditasi sebagaimana mestinya. Untuk memvisualisasikan, bayangkan diri sendiri sebagai Avalokiteshvara putih bertangan dua yang memandang keluar. Bermeditasi diri sebagai Bodhisattva putih berfungsi untuk melenyapkan penampilan awam.
Kemudian, di langit di depan dahi praktisi, visualisasikan pohon bodhi, yang di belakangnya terdapat istana yang luas dan megah, memancarkan berbagai sinar cahaya. Di depan pohon bodhi, di atas teratai yang tidak ternoda oleh cela duniawi, dan piringan bulan putih yang melambangkan belaskasih. Di atas teratai dan bulan, visualisasikan Buddha Amitabha, essensi kebijaksanaan yang mampu membedakan benar-salah, memahami segala sesuatu dengan jelas dan tepat, dengan warna merah seperti coral. Sebagai tanda pencerahannya, Beliau memiliki satu wajah dan tonjolan di puncak kepala yang menyerupai mahkota (ushnisha) di kepalanya. Kedua kakinya dihiasi dengan roda dharma, dan tubuhnya dihiasi dengan tiga puluh dua tanda utama dan delapan puluh tanda minor. Beliau memegang vas berisi nectar abadi, yang melambangkan tak terpisahkannya metode dan kebijaksanaan, serta mengenakan tiga jubah kebhiksuan yang mewakili pelepasan dari keterikatan. Dengan kedua kaki dalam posisi teratai, Beliau duduk dengan punggung ditopang oleh pohon bodhi, mewakili wujud nirmanakaya.
Setelah itu, di sebelah kanan Buddha Amitabha, perwujudan belas kasih dari semua Buddha, Sang Avalokiteshvara yang agung, berwarna putih, dengan teratai putih di tangan kirinya. Dan di sebelah kiri Buddha Amitabha, perwujudan kekuatan dari semua Buddha, Vajrapani yang perkasa, berwarna biru, dengan teratai dan vajra di tangan kirinya. Kedua Bodhisattva merentangkan tangan kanan mereka membentuk gesture mengambil perlindungan, berdiri di atas takhta teratai dan bulan, tiga Tokoh utama ini duduk bagaikan Gunung Meru. Di sekeliling tiga Tokoh utama, terdapat Para Arahat yang memakai perlengkapan sebagai bhiksu yang sudah ditabiskan sepenuhnya, dikelilingi oleh ribuan bhiksu pengiring arahat yang tak terhitung jumlahnya, yang mewakili Vinaya Luar (Beliau Nampak seperti bhiksu yang sudah ditabiskan sepenuhnya dalam tradisi Hinayana, namun Beliau Adalah seorang Bodhisattva), mewakili kualitas di dalam diri Bodhisattva, dan mewakili Praktisi Vajrayana. Langit di atasnya dipenuhi oleh banyak Dewi-Dewi persembahan, dan tak terhitung Istadevata serta Dewi lainnya mengelilingi mereka. Visualisasi ini adalah langkah pertama: mengingat Tanah Suci. Ingatan ini harus terus-menerus dan berulang kali direnungkan serta diingat.
Penyebab kedua untuk terlahir kembali di Tanah Suci Kebahagiaan Agung adalah mengumpulkan sejumlah besar kebajikan. Ada banyak contoh pengumpulan kebajikan baik dalam tradisi Sutra maupun Mantra. Menurut Sutra, ini adalah persembahan tujuh cabang seperti yang disebutkan dalam Doa Perbuatan Baik. Dalam Mantra, ini adalah yoga dari para Istadevata, mantra, dan konsentrasi meditasi.
Sekarang, dalam tradisi sutra, praktik tujuh cabangmencakup:
1) sujud
2) persembahan
3) pengakuan terhadap kesalahan kesalahan dan penyesalan
4) sukacita
5) memohon untuk memutar roda Dharma
6) memohon untuk tidak masuk ke dalam nirvana
7) dedikasi serta aspirasi
Ini adalah praktik tujuh cabang, yang juga hadir dalam Doa Panjang KebahagiaanTanpa Batas (Dechen Monlam) yang disusun oleh Karma Chakme. Secara khusus, teks sadhana ini mencakup pengumpulan kebajikan menurut tradisi sutra dan tantra.
Cabang Pertama, bersujud: Bersujud berarti memberikan penghormatan. Bersujud, atau membungkuk, adalah tindakan membungkukkan badan. Tujuan utama dari bersujud adalah untuk melawan kesombongan kita. Bersujud ini harus dilakukan dengan mengingat kembali kualitas-kualitas dari objek dari bersujud.
Sekarang pertanyaannya adalah siapakah objek dari bersujud? Objeknya adalah Buddha Amitabha dan alamnya beserta para pengikutnya. Dalam teks “Hung, Engkau yang memutar roda dharma” hingga “Kepada Cahaya Tanpa Batas, yang beristirahat dalam ketenangan, aku bersujud” (Halaman No.16-17) ini adalah bait-bait sujud. Jika kita memiliki kesombongan di dalam hati, kita tidak akan pernah bias memupuk kualitas yang baik. Oleh karena itu, mengingat kualitas dari objek perlindungan dan bersujud dilakukan untuk menundukkan kesombongan kita dan memupuk kualitas perlindungan di dalam benak kita.
Kemudian, mantra “Oṃ Ah Mi Dewa Hṛīḥ, Vajra Samaya Jaḥ” (Halaman No.17) mengundang Buddha Amitabha dan pengiringnya ketempat ini. “JaḥHūṃBaṃ Hoḥ” (Halaman No.17)menandakan bahwa Buddha Amitabha beserta pengiringnya dan praktisi menjadi tak terpisahkan. “TiṣṭhaLhaṇ”(Halaman No.17) berarti “Mohon tinggal di tempat ini, wahai Makhluk yang penuh dengan Kebijaksanaan (Buddha Amitabha dan para pengiringnya).” “Ati Puhoḥ”(Halaman No.17) adalah untuk bersujud. Setelah itu, Makhluk dengan kebijaksanaan (Buddha Amitabha dan semua Bodhisattva yang tercerahkan) dimahkotai dengan lima keluargaTathāgata.
Sekarang cabang kedua adalah cabang persembahan. Alasan memberikan persembahan adalah untuk mengatasi kekikiran dan kemelekatan kita pada benda-benda. Kekikiran dan kemelekatan menghalangi pengumpulan kebajikan. Tidak hanya itu, meskipun para Buddha dan Bodhisattva bahkan tidak memiliki nama penderitaan seperti haus, lapar, dan perut kosong sebagaimana diri kita, tetapi demi menghilangkan penyebab dan hasil penderitaan diri sendiri dan semua makhluk hidup, serta untuk menyucikan karma buruk dan selubung noda serta meningkatkan kebajikan, kita harus mempersembahkan jenis-jenis persembahan yang tak terbayangkan. Selama kita masih memiliki konsep bersih dan kotor, kitaharusmempersembahkanhal-hal yang paling indah, bersih, luas, berharga, dan bernilai kepada Tiga Permata. Saat mempersembahkan, visualisasikan bahwa dari hati Anda memancar tujuh Dewi persembahan, dan dari masing-masing tujuh Dewi ini memancar tujuh Dewi lagi, dan seterusnya memancar Dewi Dewi persembahan yang tak terhitung jumlahnya. Sebagai contoh, seseorang harus memvisualisasikan seolah-olah satu pelita mentega terbelah menjadi dua, dan seterusnya.
Dalam praktik sadhana, “Hung, dengan air harum” hingga “rak ta kha ram khan hi” (Halaman No.17-29) berbagai jenis persembahan dipersembahkan. Persembahan ini meliputi: air untuk membersihkan tubuh, kain putih, saffron, perhiasan berharga, tujuh persembahan, delapan tanda dan zat keberuntungan, tujuh harta karun kerajaan, serta mandala berharga, obat-obatan, rakta (red nectar), dan persembahan torma. Semua objek yang saya miliki maupun tidak saya miliki, dipersembahkan kepada Buddha Amitabha dan pengikutnya, demi menyucikan semua tindakan buruk dan selubung noda dari diri saya dan semua makhluk hidup tanpa terkecuali.
Sekarang, cabang ketiga adalah pengakuan tindakan buruk. Meskipun tindakan buruk itu sendiri tidak memiliki kualitas kebajikan, tindakan tersebut dapat disucikan jika melakukan pengakuan, itulah sebabnya kita harus melakukan pengakuan tindakan buruk. Tindakan buruk yang telah kita kumpulkan dalam kehidupan ini dan kehidupan sebelumnya tidak terhitung dan tidak terukur. Jika kita merangkum banyak tindakan buruk ini, mereka dapat dikategorikan kedalam tindakan yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, dan pikiran. Misalnya, tiga tindakan tidak berkebajikan dari tubuh, empat tindakan tidak bajik dari ucapan, dan tiga tindakan tidak bajik dari pikiran, yang secara keseluruhan berjumlah sepuluh tindakan tidak bajik. Selain itu, lima tindakan keji yaitu: membunuh ayah,membunuh ibu, membunuh guru,membunuh arhat, dan menyebabkan pertumpahan darah pada patung Buddha atau stupa dengan niat jahat (memecah belah Sangha) seperti yang disebutkan di 5 Garuka Karma. Lebih lanjut, jika seseorang mengembangkan pandangan salah terhadap Dharma yang suci. Disebutkan dalam sutra-sutra, jika seseorang melakukan lima tindakankeji dan meninggalkan atau memiliki pandangan salah tentang dharma, ia tidak akan terlahir kembali di Alam Kebahagiaan.
Jika Anda bertanya bagaimana cara menyucikan dosa-dosa tersebut, jawabannya adalah melalui empat kekuatan penawar, dan menyesalinya secara mendalam. Dari waktu tanpa awal kehidupan kita hingga sekarang, kita telah mengumpulkan banyak karma buruk. Kita harus mengakui karma-karma buruk tersebut dengan penyesalan yang besar, seperti saat kita menelan racun, merasa malu, takut, dan penyesalan yang mendalam. Tetapi jika kita tidak memiliki tekad untuk tidak melakukan tindakan seperti itu lagi, dosa-dosa tersebut tidak akan disucikan. Oleh karena itu, kita harus membuat komitmen yang tegas mulai sekarang, bahkan dengan taruhan nyawa kita, untuk tidak terlibat dalam tindakan yang tidak baik. Dan harus berdoa semoga Tathagata Amitabha, bersama dengan putra-putranya, memberkati kita untuk menyucikan batin kita secara menyeluruh.
Dalam praktik ini, baris dari“Om, Tubuh Vajra adalah wujud yang agung” hingga “Vajra sa to Hung” (Halaman No.29-31) adalah pujian terhadap tubuh, ucapan, dan pikiran Amitabha, dan ini merupakan metode khusus untuk mengakui dosa-dosa tubuh, ucapan, dan pikiran kita, bersama dengan dosa seluruh makhluk hidup.
Kemudian dari“E ma ho, Buddha cahaya tanpa batas yang menakjubkan” hingga “Berkatilah aku agar aku dapat mencapai keadaan cahaya tanpa batas” (Halaman No.32) adalah doa-doa permohonan dan permintaan berkah agar tidak terpisahkan dari Buddha Amitabha dan pengikutnya.
Berikutnya adalah cabang keempat yaitu cabang bersuka cita. Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit, cabang ini tercakup secara tersirat. Bersuka cita adalah sebagaimana disebutkan dalam Aspirasi surga Sukhavati:
- Ketika kita mendengar orang lain melakukan perbuatan baik
- Kita harus membuang rasa iri dan pikiran buruk
- Dan bersuka cita secara tulus. Dikatakan bahwa kita kemudian
- Akan berbagi secara setara dalam kebajikan yang telah mereka kumpulkan
- Oleh karena itu, kita bersuka cita atas semua tindakan bajik
- Yang dilakukan oleh makhluk agung maupun orang biasa
- Setelah membangkitkan bodhichitta yang tertinggi dan tidak tertandingi
- Kita bersuka cita atas perbuatan luas mereka demi manfaat para makhluk
Sepuluh tindakan tidak bajik ditinggalkan, sepuluh kebajikan dipraktikkan:
- Menyelamatkan nyawa
- Memberi dengan dermawan
- Memegang teguh ikrar
- Berbicara jujur
- Mendamaikan konflik
- Berbicara lembut dan jujur
- Menyampaikan kata-kata bermakna
- Memiliki sedikit keinginan
- Memupuk cintakasih dan belaskasih
- Serta terlibat dalam Dharma
Kita bersuka cita atas semua tindakan bajik ini.
Kemudian, cabang kelima adalah cabang memutar roda dharma sebagaimana dinyatakan dalam Aspirasi surga Sukhavati:
Di seluruh dunia tanpa batas di sepuluh arah,
Kepadasemua orang yang baru saja mencapai keBuddhaan sempurna,
Aku mendesak Beliau untuk segera memutar roda dharma yang luas.
Ini adalah cabang memutar roda dharma.
Cabang keenam adalah cabang memohon kepada mereka Sang Pemenang untuk tidak masuk kedalam nirvana. Sebagaimana dinyatakan dalam Aspirasi surga Sukhavati:
Dengan pikiran luar biasa mereka, semogamereka mengetahui tujuan ini.
KepadasemuaBuddha, Bodhisattva, dan Guru dari ajaran,
Dan semua orang yang berniat masuk ke dalam nirvana,
Aku memohon kepada mereka untuk tetap tinggal dan tidak masuk ke dalam nirvana.
Ini adalah cabang untuk tidak masuk ke dalam nirvana.
Terakhir, cabang ketujuh adalah cabang dedikasi dan aspirasi. Sebagai mana dinyatakan dalam Aspirasi surga Sukhavati:
Melalui ini dan seluruh kebajikanku di tiga masa,
Aku mendedikasikannya demi manfaat semua makhluk hidup.
Semoga semua mencapai pencerahan yang tak tertandingi dengan cepat,
Dan semoga tiga alam samsara dikosongkan dan dicabut sampai keakar-akarnya.
Ketujuh cabang ini adalah pengumpulan kebajikan sesuai dengan tradisi sutra.
Sekarang, dalam tradisi Mantra Rahasia, metode mengumpulkan perbuatan baik adalah dengan bermeditasi pada tiga yoga dari Istadewata (Yoga tubuh, yoga perkataan, yoga pikiran) , mantra, dan samadhi. Dalam teks sadhana, “Aku bangkit sebagai Pikiran Pemberani yang Perkasa dari samsara (Chenrezig)” hingga “dating untuk mencapai tingkat Cahaya Tanpa Batas” (Halaman No. 32-35)
Urutan visualisasinya adalah sebagai berikut:
Visualisasikan diri Anda sebagai Avalokiteshvara berlengan empat, dalam busana sambhogakaya, duduk di atas teratai, menghadap keluar.
Di depan diri sendiri, visualisasikan Amitabha dengan Avalokitesvara dan Vajrapani serta seluruh Tanah Suci Sukhavati, semuanya menghadap kedalam ke arah diri Anda. Di hati Amitabha dan diri anda sendiri, di atas cakram (piringan) bulan, visualisasikan suku kata Hrih berwarna merah seperti Ruby ཧྲཱིཿ, dikelilingi oleh mantra Amitabha berwarna merah seperti Ruby
“OM AMI DHEWA HRIH”ཨོཾཨ་མི་དྷེ་ཝཱ་ཧྲཱིཿ, yang berputar searah jarum jam dan huruf-hurufnya menghadap kearah suku kata Hrih.
Dari sini, sinar berbagai warna memancar dari ushnisha Buddha Amitabha, memenuhi seluruh langit. Sinar itu memancar ke sang pemenang dan putra-putra mereka di sepuluh arah, mempersembahkan persembahan tertinggi kepada mereka.
Berkah dari para penakluk dan putra-putra mereka diserap ke dalam diri sendiri sebagai Avalokiteshvara, dan berkah ini kemudian diserap kedalam semua makhluk, menyucikan tindakan buruk dan selubung noda mereka, serta membuat mereka layak untuk terlahir di Sukhavati.
Lingkungan luar berubah menjadi Tanah Suci Sukhavati, dan makhluk-makhluk di dalamnya, seluruh makhluk hidup, berubah menjadi Amitabha, bodhisattva, dan Sangha yang mulia.
Pembacaan mantra ini mengosongkan dunia samsara. Seluruh makhluk hidup, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, mencapai keadaan Amitabha. Bersama dengan visualisasi, ucapkan mantra “Om Ami Dhewa Hrih”ཨོཾ་ཨ་མི་དྷེ་ཝ་ཧྲཱིsekurang-kurangnya seratus delapan kali.
Secara umum, “bnyen pa” berarti membuat sesuatu menjadi lebih dekat. Tujuan utamanya adalah untuk membuat makhluk dengan kebijaksanaan dan makhluk yang berkomitmen menjadi lebih dekat (di sini Istadevata Kebijaksanaan mengacu pada objek utama visualisasi yaitu Buddha Amithaba dan Para Pengiringnya, dan juga Alam Surga Amitabha) dan Istadevata komitmen mengacu pada orang yang memvisualisasikan).
Meditasi pada Amitabha dan pengikutnya adalah yoga dari Istadevata.
Demikian pula, membaca mantra Amitabha adalah yoga mantra.
Bermeditasi pada berbagai jenis visualisasi adalah yoga samadhi.
Ini juga dikenalsebagai tahap pembangkitan diri.
Setelah itu, “Dari cahaya mantra” hingga “dengan cepat diserap kedalam diriku dan visualisasi di depanku” (Halaman No. 35-37), visualisasikan bahwa untaian mantra dari hati (dada) diri praktisi ,untaian huruf Hrih ཧྲཱིཿ berwarna merah muncul dari mulut dan memasuki mulut visualisasi Amitabha yang beradadi depan praktisi.
Untaian huruf Hrih ཧྲཱིཿ tersebut menyatu kedalam untaian mantra di hati Amitabha, mengelilingi suku kata Hrih dari Hati Buddha Amitabha.
Dari untaian mantra itu,sekali lagi serangkaian huruf Hrih ཧྲཱིཿ berwarna merah muncul dan menyatu kedalam pusar Anda, kemudian kedalam hati, dan anda menerima berkah dan pencapaian. Huruf-huruf Hrih ཧྲཱིཿ dari pusar praktisi (yang memvisualisasikan dirinya sebagai Avalokitasvara berlengan empat) ini berputar melingkar seperti sulur api, memancarkan sinar cahaya beraneka warna ke arah Alam Kebahagiaan Barat.
Hal ini menggugah hati Buddha Amitabha dan pengikutnya. Buddha Amitabha memancarkan banyak tubuh Amitabha dengan ukuran besar dan kecil, berbagai huruf Hrih, dan berbagai macam vajra berujung lima, berwarna merah, seperti kepingan salju yang berputar-putar. Ini menyatu kedalam diri sendiri dan visualisasi di depan.
Ucapkan mantra Hrihཧྲཱིཿ sekurang-kurangnya seratus delapan kali.
Hal Ini juga memiliki tiga aspek yaitu Istadewata, mantra, dan samadhi.
Kemudian, “Di hati visualisasi di depan dan di hati vas” hingga “sehingga memenuhi vas dengan nektar” (Halaman No.38), visualisasi yang ada di depan kita dan Istadewata utama vas (Buddha Amitabha dan seluruh pengiringnya, dan semua alam Surga Sukhavati), berada di dalam bulan, Para Istadewata dari Amitabha bersama Avalokitesvara dan Vajrapani memancar dari hati mereka mantra panjang Amitabha, mengubah air murni di dalam vas menjadi eliksir yang diberkati (Amrita).
Berikut Adalah mantra Panjang dari Buddha Amitabha:

Bermeditasilah pada visualisasi ini dan ucapkan mantra panjang tersebut sebanyak mungkin. Manfaat dari mantra panjang ini, sebagaimana dinyatakan oleh Buddha Shakyamuni dalam sutra dan tantra, adalah bahwa mengucapkannya sekali saja menyucikan selubung karma yang terkumpul selama seratus ribu eon.
Berikutnya, “Di dalam vas aktivitas terdapat Hayagriva berkepala kuda, berwarna merah” hingga “vas menjadi penuh” (Halaman No. 39-40), di dalam vas aktivitas, visualisasikan Istadwata murka Hayagriva, berwarna merah, dan dari hatiNYA turun eliksir yang memenuhi vas aktivitas dengan nektar.
Ucapkan mantra Om Hayagriva Hum sebanyak tujuh kali. Kemudian, persembahkan pujian kepada Hayagriva.
Ini adalah urutan visualisasi dari mantra rahasia, metode mengumpulkan kebajikan melalui tiga yoga yaitu Istadevata, mantra, dan samadhi. Ini adalah penyebab kedua untuk terlahir kembali di Tanah Kebahagiaan Agung.
Penyebab ketiga, membangkitkan pikiran pencerahan, sudah disebutkan selama tahap berlindung dan bodhichitta.
Setelah itu, Anda perlu mengucapkan Aspirasi ekstensif dari surga Sukhavati oleh Karma Chakme. Dedikasi dan doa ini adalah penyebab keempat untuk terlahir kembali di Sukhavati.
Menyusul doa ini, ada persembahan kepada para Pelindung Dharma. Karena sifatnya yang ketat, hal ini tidak diizinkan untuk dibahas.
Setelah persembahan pelindung, persembahan jamuan (ganachakra/feast) disajikan. Dari “Aku dalam wujud Chenrezig” hingga “menerangi jalan menuju keadaan kebahagiaan tak tergoyahkan Kebuddhaan” (Halaman No. 55-67) adalah doa-doa persembahan jamuan. Alasan utama menyajikan jamuan adalah karena kita mengumpulkan banyak persembahan dan mengundang semua Buddha dan Bodhisattva, guru silsilah, serta Istadewata kebijaksanaan ke tempat ini, dan dengan berkah dari para Buddha& Bodhisattva, Guru Silsilah, dan Istadewata kebijaksanaan atas persembahan jamuan tersebut dengan sukacita besar dan dengan menerima persembahan kita, sebagai imbalannya, kita memohon berkah dan siddhi.
Melalui permohonan ini, semoga karma-karma buruk dan selubung noda dari diri saya dan semua makhluk hidup disucikan, dan khususnya, semoga semua kesalahan dalam mempraktikkan sadhana ini diakui dan disucikan, yang mengarah pada pencapaian siddhi tertinggi dan umum. Inilah alas an untuk mempersembahkan jamuan.
Dari “Ketahuilah! Dalam dharma yang suci ini” hingga “Semoga Tiga Permata membawa kebaikan dan sukacita” (Halaman No. 67-82).Akhirnya, kita ikut serta dalam memberi persembahan jamuan, mengucapkan doa-doa panjang umur dari para Guru Guru silsilah, kemudian makanan yang sudah dipersembahkan dibagikan kepada tamu untuk melakukan aktivitas yang dipercayakan kepada mereka, kemudian torma diberikan kepada Pelindung Dharma untukmengingatkan kepada Pelindung Dharma akan janji untuk melindungi Dharma dan para praktisi, kemudian ada doa dedikasi di mana seseorang berdoa agar melalui kebajikan dari melakukan Sadhana Buddha Amitabha, kita semua dapat mencapai keadaan Buddha Amitabha dan bekerja demi kesejahteraan semua makhluk.
Dan kemudian kita sekali lagi mengakui kesalahan dan kelalaian saat melakukan Sadhana dengan mengucapkan mantra seratus suku kata dari Vajrasattva sebanyak tiga kali. Kemudian Anda perlu bermeditasi pada visualisasi peleburan semua makhluk bijaksana kedalam diri Anda dan diri Anda sendiri melebur kedalam luminosite (cahaya murni). Dan kemudian Anda muncul kembali sebagai Buddha Amitabha yang tubuhnya seperti pelangi. Anda harus bermeditasi pada tahap penyelesaian singkat, mengingat bahwa “Semua fenomena pada hakikatnya adalah kekosongan” ini menandakan tahap penyelesaian. Bahkan jika Anda tidak tahu cara bermeditasi pada tahap penyelesaian, hanya dengan mengingat “Semua fenomena adalah kekosongan” sudah cukup. Kemudian diakhiri dengan kata-kata keberuntungan untuk menghiasi kesepakatan tersebut.
Dalam sadhana ini, dari awal berlindung hingga akhir di mana seseorang melebur ke dalam kekosongan, tahap pembangkitan atau tahap penciptaan, dan bermeditasi pada kekosongan di akhir sadhana adalah tahap penyelesaian, sebagaimana diajarkan dalam teks-teks Tantra.
Penjelasan ini telah mencakup empat penyebab untuk terlahir di Tanah Kebahagiaan yang berkaitan dengan praktik Sadhana Tanah Kebahagiaan, yang disajikan secara ringkas dan mudah dipahami.
Terimakasih.
Diajarkan oleh Master Vajra Namgyal Rinpoche
dan diterjemahkan oleh Karma Topden (Guru dariRumtekSheda).
Diterjemahkanke Bahasa Indonesia Oleh Ellen ,Zheng Wei Chi
