Doa hari ke-3 (Seven day Prayers For A Time of Pandemic)

Tashi delek…
Hari ini adalah hari ke-3 doa-doa untuk meredam pandemi.

Hari ini kita akan melafalkan sutra dari Dharani Aksobhya. Terdapat 2 sutra demikian, yang pertama adalah dalam Kangyur Tibetan, yang kedua adalah yang saya alih bahasakan dari bahasa Mandarin ke Tibet.
Disebutkan bahwa Aksobhya adalah yang paling efektif untuk memurnikan halangan-halangan karma. Hal ini berhubungan dengan aspirasi-aspirasi spesifik beliau. Ketika beliau pertama-tama membangkitkan Bodhicitta, beliau membuat komitmen hingga Saya tercerahkan pada Kebuddhaan; saya tidak akan merasa benci atau dengki pada makhluk. Inilah alasannya Beliau dinamai Aksobhya (Yang Tak Tergoyahkan).

Hari ini kata karma terkenal di seluruh dunia. Tapi semata mata hanya memahami kata katanya tidak berarti bahwa kita mengerti karma.
Hal ini disebabkan karma sebab dan akibat adalah berhubungan dengan bahkan dengan kesalahan terkecil yang kita miliki dan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Bila kita tak pernah memeriksa kesalahan dan tindakan kita dan lalu efek efeknya melalui pengalaman-pengalaman kita, maka tak ada cara kita bisa pahami cara bekerjanya karma.

Pandemi saat ini mengirim pesan yang jelas bahwa karma bukan hanya teori semata; alih alih ia berhubungan dengan apa yang telah kita pilih untuk dilakukan dan apa yang kita pilih tidak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Kita cenderung mencurahkan perhatian pada hasil tapi tidak memberikan perhatian yang sama pada penyebab-penyebab kondisi dan motivasi yang membawa pada situasi tertentu.

Contohnya, bila kita tidak berpikir tentang pentingnya mencuci tangan kita,melakukan pembatasan sosial dan lain sebagainya, untuk mencegah penularan virus; hanya berkeinginan tak mau jatuh sakit, tidak akan membantu kita sama sekali.

Dengan cara yang sama, jika seseorang terkena virus ini, mereka bisa menyebarkan ke yang lain. Jadi kita harus mengambil tanggung jawab; tapi bukan hanya untuk kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri, kita juga harus mengambil tanggung jawab untuk kesehatan dan kebahagiaan tiap-tiap orang lainnya. Ini adalah point krusialnya.

Beberapa orang mengunakan karma sebagai alasan, mereka hanya menyalahkan segalanya pada karma; sebagai nasib mereka.

Karma bukan berarti bahwa kita tidak bisa meningkatkan diri kita atau bergerak maju. Sebenarnya arti dari karma sebab dan akibat adalah kita bisa jadi lebih percaya diri dan lebih antusias tentang mengambil tanggung jawab demi manfaat diri sendiri dan orang lain.

Sekarang kita akan melafalkan 2 Sutra. Bagi Anda semua yang tidak berbicara bahasa Tibet bisa melafalkannya dalam bahasa Anda sendiri. Tidak harus bersama sama dengan saya. Jika saya terlalu pelan melafalkannya; bagi yang bisa berbahasa Tibet akan mengantuk.

Category : Event

Comments are closed.